keras nya hidup untuk seorang anak
Bismillah....
cuaca yang lumayan dingin dan cukup syahdu untuk menemani seorang wullan menulis postingan kali ini, dikarenakan kota cinta ini diguyur rezeki (baca:hujan) sepanjang hari. ntah alesan apa saya begitu menyukai suasana seperti sekarang saat saya menulis ini, tangan dan keyboard kayak medan magnet saling tarik menarik, huruf-huruf berterbangan diotak saya udah ngga sabar untuk di kelurakan menjadi rangkain frase, kata dan akhirnya tersusun menjadi sebuah kalimat. haha... mungkin aja mereka marah, udah lama mandep dalam otak , si empu otak nih emang dasar ya.
that's enough untuk basa basi nya ya, kita masuk ke topik yang sebenarnya saya akan tulis, yang udah beberapa pekan ini berkoar-koar dalam hati, sebelumnya saya pengen ngutip sebait lirik punya Om Iwan Fals..
" Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal.... "
mungkin lirik diatas udah ngga asing lagi buat saya dan kalian, lagu ini sering kita dengar di angkot, bis antar-kota, pasar, mall, dan banyak lagi . lagu yang bila kita cerna memilik banyak makna kehidupan.
cerita bermula dari sering nya saya melihat anak-anak kecil di jalanan yang sering saya panggil "adek".
malam itu saya dan kakak saya baru pulang dari supermarket yang lumayan jauh dari rumah, kebetulan saya pada posisi di bonceng kakak. berhenti lah kami ketika "si pelangi jalan"(baca:lampu merah) memberi peringatan untuk berhenti, sedang menunggu lampu hijau saya melihat sekitar jalanan, dan tiba-tiba ada seorang adik kecil nawarin koran.
adik kecil : kak, koran nya kak..
saya : ngga dek, makasih (hati saya miris..bertepatan dengan "si hijau" menyala)
selang beberapa minggu, saya kembali ke jalan yang sama walau beda perempatan. ternyata si adik kecil masih setia di sana. UUpss... saya pengen nangis.
kali ini dia nawarin lagi.
adik kecil (a.k) : kak, koran nya kak...
saya : boleh deh , berapaan dek ?? (ngambil duit dalem kantong celana..)
a.k : tiga ribu kak (sambil nyerahin tuh koran..)
saya : makasih dek ya,,( penasaran saya mulai nanya) adek sekolah ngga ?? tinggal dimana ??
a.k : sekolah kak, tinggal di sana kak (nyebutin suatu daerah yang lumayan saya kenal )
saya : emang ayah ibu kemana ?? kog adek disuruh jualan koran malem-malem gini ?? ngga dingin ya...
a.k : ada kak dirumah, lagi kerja, mau bantu orang tua kak untuk sekolah
saya : ( termangu...mendengar jawaban polos dari adik kecil ini.. lagi-lagi si hijau memisahkan pembicaraan kami )
sepanjang perjalanan pulang saya terisak , rindu seketika dengan ayah ibu nun jauh di sana.
Rabb.. mengapa adik kecil itu harus menanggung beban dunia yang begitu berat ini.
bukan sekali ini saja saya bertemu dengan anak seperti adik kecil itu, mereka hampir mengelilingi saya.
betapa beruntungnya anak yang terlahir di keluarga yang tidak memaksa mereka harus menanggung beban seperti itu, yang mana semua fasilitas dapat terpenuhi,tanpa harus mengeluarkan keringat dulu,
betapa bahagianya anak yang bisa bermanja dengan orang tua nya kapan saja, tanpa harus memikirkan waktu sekolah dan bekerja harus di utamakan,
alangkah empuknya kasur dengan Ac yang memberi kesejukan mengantar ke alam mimpi, tapi alangkah berarti nya waktu sehingga rela terlelap di pinggir jalan beralaskan koran bekas dan berselimutkan jaket merah kusam, hanya demi uang lima ratus rupiah,
alangkah indahnya masa kecil dilalui dengan orang-orang yang begitu menyayangi dan mengasihi tawa lepas menemani harimu, tapi alangkah kejam nya dunia sehingga kau tak diberi kesempatan melepas tawa mu, lihat wajahmu yang lucu tersamarkan debu asap jalanan, hanya kesedihan tergambar diwajahmu,dik
dek, semenjak pertemuan itu kini kau dan anak-anak yang kurang beruntung didunia ini telah menjadi bagian doa-doa panjang kakak setiap malam.
Tuhan selalu ada disampingmu,
mungkin sekarang ini kurang baik untukmu,
bersabar lah, yakin akan janji Tuhan mu
bila pun di dunia kau tak berkesempatan untuk kebahagaiaan itu,
surga firdaus menantimu disana.
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Disimpang jalan tugu pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Menjelang maghrib hujan tak reda
Si Budi murung menghitung laba
Surat kabar sore dijual malam
Selepas isya melangkah pulang
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Cepat langkah waktu pagi menunggu
Si Budi sibuk siapkan buku
Tugas dari sekolah selesai setengah
Sanggupkah si Budi diam di dua sisi
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal
*sore tugu pancoran by : Iwan Fals*
kecup sayang dan salam cinta untuk kalian sang pemilik waktu
___________Regrads_____________
00.43/ june'6th11
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Translate
About
"sometime you have to live life one letter at a time...." :p.s.: I love you
Total Tayangan Halaman
Blog Archive
Followers
Mengenai Saya
- pramest.wullan
- assalamualaikum.... Ketika aku membuka dan membaca buku, betapa banyak kutemukan ilmu, ternyata ilmu itu bertebaran dimana-mana. Untuk pergi berkeliling dunia aku tak perlu menyiapkan paspor, visa dan surat-surat semacamnya. Aku hanya perlu membuka halaman perhalaman dari buku apa saja. Dalam membaca sebuah buku aku tak ingin melewatkan satu huruf pun, maski itu hanya sebuah nomor halaman
0 komentar:
Posting Komentar